Membeli Alutsista versi Export(downgrade)?
Kenapa banyak negara terus membeli Alutsista Versi Export
Kenapa banyak negara masih terus senang membeli alutsista versi export downgrade dari United States, Russia, dan PRC?
Kalau Saab Gripen begitu bagus, kenapa tidak banyak negara yang membelinya?
Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, sekaligus menjelaskan kenapa Indonesia sudah saatnya berpaling dari Trio penjual barang versi export downgrade ini, berhenti mendengarkan bualan para agen sales yang mungkin lebih dimotivasi keuntungan finansial pribadi, dan mulai memperjuangkan kebutuhan pembangunan kemandirian alutsista Indonesia!
Alasan Pertama: "biaya perlindungan" secara politik, ataupun secara aliansi strategis
Alasan Kedua: Warisan sejarah peninggalan masa perang dingin
Kalau India terus-menerus complain tentang Su-30MKI, kenapa mereka masih terus mengoperasikan pesawat Gasak ini?
Kenapa begitu banyak alutsista India masih buatan Russia?
Kenapa India tidak lantas banting setir ke United States, ataupun Eropa?
Jawabannya, karena tidak semudah itu. Walaupun secara politik India termasuk lebih netral, hubungan supplier-customer antara Russia, dan India yang sudah mendarah daging sebenarnya adalah warisan peninggalan dari masa Perang Dingin.
Semuanya kembali ke tahun 1971, dalam perang India-Pakistan kedua, yang berakhir dengan dimerdekakannya Bangladesh. Di tahun 1971 ini, seperti dilaporkan Sebastian Roblin, yang menuliskan artikel untuk War-is-boring; pemerintah United States di masa itu hampir saja memerintahkan Task Force 74 US Navy, untuk mengambil andil dalam perang tersebut... di pihak Pakistan!
Demikianlah berbahayanya konflik politik di belakang layar dalam konteks perang dingin antara United States, dengan Uni Soviet di masa lalu.
Walaupun semua ini adalah kesalahan masa lalu yang konteksnya sudah kurang relevan di masa kini, hasilnya tetap terasa sampai sekarang. Keputusan United States waktu itu mendorong India ke pangkuan alutsista versi export bersumber Uni Soviet. Akibatnya dewasa ini, sampai India memutuskan untuk mencapai kemandirian alutsista, mereka akan selalu cenderung untuk tetap membeli alutsista dari Russia. Seberapapun banyak kekurangannya.
Dalam konteks perang dingin, tentu saja Indonesia juga mempunyai hutang politik masa lalu yang serupa.... tetapi dengan Moscow, dan bukan dengan Washington DC, seperti India.
Peristiwa pembantaian para anggota Partai Komunis Indonesia di tahun 1965, dan kemudian pembubaran Partai Komunis Indonesia di tahun 1966.
Konsekuensi dari gejolak politik di masa lalu ini, tentu saja dengan demikian mau tidak mau menempatkan Indonesia seratus persen di kubu Washington DC dalam masa perang dingin. Dewasa ini, kita adalah satu-satunya negara yang 100% anti-komunis, yang juga sudah membubarkan partai komunis lokal.
Tentu saja, kalau belum cukup pedas, kita juga sudah menghadiahkan semua perangkat ex-Soviet itu ke United States.
Gajah tidak akan lupa.
Alasan Ketiga: Untuk usaha tarik-ulur politik
Kenapa Saudi Arabia sedang mengincar pembelian S-400, walaupun juga sudah lama mengoperasikan Patriot missile sistem, dan juga sudah mendapat persetujuan untuk mengakuisisi THADD missile system dari United States?
Atau... kenapa Turki bersikeras mengakuisisi S-400, dan kabarnya sudah kontrak?
Bukankah kedua negara ini pro-US?
Apakah mereka juga tidak percaya kalau S-400 system, seperti sudah diperingkatkan NATO, tidak akan compatible dengan semua perangkat NATO yang mereka operasikan?
Apakah mereka tidak tahu kalau S-400 versi Rostec hanya akan hadir dalam Versi Export Downgrade, yang pengurangan spesifikasi-nya akan cukup dalam? Apalagi mengingat Turki masih anggota NATO?
Jawabannya bukan karena S-400 luar biasa digjaya, walaupun dalam versi export, melainkan karena latar belakang motivasi politik.
Seperti dijelaskan dalam artikel CNBC yang meragukan kalau transaksi Turki untuk S-400 ini akan bisa berhasil:
Wah, masalahnya banyak, bukan?
Artikel dari The Independent, 13-Oktober-2017, yang ditulis Oliver Caroll menjelaskan beberapa faktor di belakang layar, kenapa tidak ada kontrak yang hitam-putih:
Lebih menarik lagi, artikel ini juga melaporkan rencana investasi Saudi di Russia sendiri kelihatannya sedikit macet.
Yah, rencana akuisisi S-400 baik dari Turki, ataupun Saudi Arabia, sebenarnya lebih menunjuk suatu pernyataan politik dibanding kebutuhan.
Saudi Arabia sudah lama mengoperasikan Patriot PAC missile system, dan sudah mendapat persetujuan untuk juga mengakusisi THAAD missile system untuk anti-ballistic missile. Dengan sistem two-tier missile sistem ini, secara logika saja, tidak ada tempat untuk memasukan S-400 yang tidak akan compatible dengan semua perangkat udara Saudi yang lain, yang mayoritasnya buatan Barat.
Sedangkan Turki adalah bagian dari NATO. Artikel 5 dari NATO menggarisbawahi kalau setiap negara anggota NATO akan wajib membantu salah satu anggotanya yang menghadapi ancaman militer negara lain. Sistem pertahanan udara Turki sudah terintegrasi dengan NATO; kalau perlu, seperti sekarang, United States dapat menyokong tambah pertahanan udara mereka dengan Patriot battery. Kembali, sama seperti di Saudi Arabia, kebutuhan untuk S-400 relatif tidak ada.
Yang lebih menarik disini, sebenarnya baik Turki, ataupun Saudi menuntut Transfer-of-techology sebagai bagian dari transaksi dengan Russia. Keduanya ingin mengintegrasikannya dengan sistem networking mereka. Kita sudah tahu kalau India terus melaporkan kalau Transfer-of-Technology dari Russia itu akan mustahil, bahkan walaupun mereka membayar sebagian biaya development PAK-FA.
Apa yang akan terjadi disini kalau kontraknya akhirnya final? Kita belum tahu, tetapi India sudah pasti akan mengawasi.
Kembali ke Indonesia, kita tidak mempunyai alasan pernyataan politik yang serupa untuk lebih condong ke United States, atau ke Russia. Keduanya tidak akan peduli. Mereka hanya tertarik untuk menghitung uang yang bisa masuk hasil dari sistem akusisi kita yang sudah termasyur:
Alasan Keempat: TIDAK ADA PILIHAN LAIN
Penutup: Kita tidak perlu mencontoh negara lain
Kalau Saab Gripen begitu bagus, kenapa tidak banyak negara yang membelinya?
Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam ini, sekaligus menjelaskan kenapa Indonesia sudah saatnya berpaling dari Trio penjual barang versi export downgrade ini, berhenti mendengarkan bualan para agen sales yang mungkin lebih dimotivasi keuntungan finansial pribadi, dan mulai memperjuangkan kebutuhan pembangunan kemandirian alutsista Indonesia!
Alasan Pertama: "biaya perlindungan" secara politik, ataupun secara aliansi strategis
Artikel Defense News mengenai beberapa berita pembelian pesawat tempur oleh Qatar, yang ditulis oleh Chirine Mouchantaf, membantu menjelaskan hal ini:
![]() |
| Sumber: Defense News |
Salah satu alasan membeli alutsista sebenarnya adalah seperti mengambil Asuransi Premium (Premium insurance), atau dalam istilah kasarnya, membayar biaya perlindungan secara politik, dan strategis dari negara supplier.
Dalam contoh Qatar, dengan membeli 36 F-15QA dari United States, 24 Eurofighter Typhoon Tranche-3B dari UK, dan 36 Rafale dari Perancis, mereka sebenarnya membeli jaminan perlindungan politik, ataupun strategis dari krisis dengan negara-negara GCC yang lain, sekaligus kemungkinan ancaman Iran. Sebaliknya, para supplier juga senang, karena Qatar juga akan membantu menjamin kalau semua industri produsen ketiga pesawat tempur tersebut mempunyai full order book sampai sekurangnya tahun 2025.
Semua ini, walaupun, seperti disinggung dalam artikel Defense News tadi, dengan populasi hanya 2,57 juta orang, sebenarnya Qatar tidak akan dapat merekrut, atau melatih cukup banyak pilot, atau tehnisi untuk men-support 97 pesawat tempur baru. Ini sebenarnya juga membuka kelemahan internal yang lain:
![]() |
| Ketergantungan akan asing berarti tidak ada kedaulatan (Sumber: Defense News) |
Semua negara-negara GCC yang lain, termasuk Saudi Arabia, Yordania, dan UAE, sebenarnya juga sudah lama terus membeli alutsista versi export kelas satu dari pemerintah United States untuk alasan perlindungan yang sama. Ini seperti bisa dilihat pasca-invasi Iraq atas Kuwait di bulan Agustus tahun 1990, betapa cepatnya militer United States bisa menumpuk di Saudi Arabia dalam Operasi Dessert Shield.
Asuransi Premium.
Ini tidak hanya berlaku ke negara-negara GSC, tetapi juga ke negara-negara seperti Singapore, Australia, Korea Selatan, dan mayoritas negara-negara NATO. United States akan menjamin keamanan negara-negara tersebut, dan sebagai gantinya mereka seperti "merasa diwajibkan" untuk membeli dari United States.
![]() |
| Trumpmerica mengajukan pertanyaan: Kenapa US harus terus men-subisidi NATO? (Penulis: Doug Barrow, di National Interest) Sebenarnya hubungan US - NATO tidak "one-way street" seperti yang di klaim Mr Barrow, karena negara-negara NATO merasa WAJIB membeli alutsista dari Washington DC |
Tentu saja asuransi premium ini bukannya tanpa biaya. Sama seperti di negara-negara GCC, yang harus dibayar adalah berkurangnya kemandirian secara industri pertahanan, dan bertambahnya ketergantungan ke supplier negara asing dalam hubungan supplier - customer.
Inilah juga yang menjelaskan kenapa ketiga Eurocanards semuanya sulit untuk memenangkan order di Eropa, walaupun secara tehnis, memilih salah satu dari ketiganya adalah pilihan yang lebih berdaulat.
Sampai tahun 1987, pemerintah Australia masih mengoperasikan Government Aircraft Factories, yang sebelumnya juga sudah turut mengambil andil dalam perakitan Mirage IIIO, dan F-18A/B Hornet untuk RAAF. GAF ini sendiri sudah bubar di tahun 1987, dan sekarang apa yang tersisa sudah dikuasai anak perusahaan asing, Boeing Australia.
Bagaimana dengan rencana Australia mengakuisisi F-35A versi Export?
Tidak ada lagi tender terbuka, bukan? Demikian juga tidak bisa lagi dirakit di Australia, sama seperti F/A-18A/B Hornet.
Keputusan mengakusisi F-35A Versi Export tentu saja sudah final, tanpa perlu membandingkan dengan tipe yang lain.
Ya, Australia mendapat kontrak maintenance centre untuk F-35A di Asia Pasific. Ini bukan suatu kemenangan, melainkan harga yang mereka harus bayarkan karena semakin berkurangnya kemandirian, dan semakin beratnya ketergantungan kepada sistem ALIS (Automated Logictic Information System) buatan Lockheed-Martin, United States.
Negara-negara Eropa Barat, seperti Belanda, Denmark, dan Norwegia, yang sudah memutuskan untuk mengakuisisi F-35A Versi Export yang sama, tentu saja mempunyai kewajiban untuk membayar harga yang sama.
Semuanya ini hukum alam dalam setiap kontrak dengan para penjual barang versi export. Industri lokal harus dipadamkan terlebih dahulu, dan ketergantungan dengan supplier negara asal alutsista harus menjadi dominan.
Alasan Kedua: Warisan sejarah peninggalan masa perang dingin
Kalau India terus-menerus complain tentang Su-30MKI, kenapa mereka masih terus mengoperasikan pesawat Gasak ini?
Kenapa begitu banyak alutsista India masih buatan Russia?
Kenapa India tidak lantas banting setir ke United States, ataupun Eropa?
Jawabannya, karena tidak semudah itu. Walaupun secara politik India termasuk lebih netral, hubungan supplier-customer antara Russia, dan India yang sudah mendarah daging sebenarnya adalah warisan peninggalan dari masa Perang Dingin.
Semuanya kembali ke tahun 1971, dalam perang India-Pakistan kedua, yang berakhir dengan dimerdekakannya Bangladesh. Di tahun 1971 ini, seperti dilaporkan Sebastian Roblin, yang menuliskan artikel untuk War-is-boring; pemerintah United States di masa itu hampir saja memerintahkan Task Force 74 US Navy, untuk mengambil andil dalam perang tersebut... di pihak Pakistan!
Demikianlah berbahayanya konflik politik di belakang layar dalam konteks perang dingin antara United States, dengan Uni Soviet di masa lalu.
Walaupun semua ini adalah kesalahan masa lalu yang konteksnya sudah kurang relevan di masa kini, hasilnya tetap terasa sampai sekarang. Keputusan United States waktu itu mendorong India ke pangkuan alutsista versi export bersumber Uni Soviet. Akibatnya dewasa ini, sampai India memutuskan untuk mencapai kemandirian alutsista, mereka akan selalu cenderung untuk tetap membeli alutsista dari Russia. Seberapapun banyak kekurangannya.
Dalam konteks perang dingin, tentu saja Indonesia juga mempunyai hutang politik masa lalu yang serupa.... tetapi dengan Moscow, dan bukan dengan Washington DC, seperti India.
Peristiwa pembantaian para anggota Partai Komunis Indonesia di tahun 1965, dan kemudian pembubaran Partai Komunis Indonesia di tahun 1966.
Konsekuensi dari gejolak politik di masa lalu ini, tentu saja dengan demikian mau tidak mau menempatkan Indonesia seratus persen di kubu Washington DC dalam masa perang dingin. Dewasa ini, kita adalah satu-satunya negara yang 100% anti-komunis, yang juga sudah membubarkan partai komunis lokal.
Tentu saja, kalau belum cukup pedas, kita juga sudah menghadiahkan semua perangkat ex-Soviet itu ke United States.
![]() |
| Departement of National Archives United States |
Gajah tidak akan lupa.
![]() |
| Maaf, para agen sales! Kalau India yang sudah ahli memakai ratusan Sukhoi bilang mahal, ya pasti mahal! Kalau India yang bersahabat dengan Russia saja bilang tidak ada ToT, yah, tidak akan ada ToT!! (Sumber: Defense News) |
Alasan Ketiga: Untuk usaha tarik-ulur politik
![]() |
| S-400 Launcher di Latakia, Syria |
Atau... kenapa Turki bersikeras mengakuisisi S-400, dan kabarnya sudah kontrak?
Bukankah kedua negara ini pro-US?
Apakah mereka juga tidak percaya kalau S-400 system, seperti sudah diperingkatkan NATO, tidak akan compatible dengan semua perangkat NATO yang mereka operasikan?
Apakah mereka tidak tahu kalau S-400 versi Rostec hanya akan hadir dalam Versi Export Downgrade, yang pengurangan spesifikasi-nya akan cukup dalam? Apalagi mengingat Turki masih anggota NATO?
Jawabannya bukan karena S-400 luar biasa digjaya, walaupun dalam versi export, melainkan karena latar belakang motivasi politik.
Seperti dijelaskan dalam artikel CNBC yang meragukan kalau transaksi Turki untuk S-400 ini akan bisa berhasil:
![]() |
| Sumber Artikel: CNBC |
- Pemerintah Edrogan menyalahkan Barat karena usaha coup yang gagal di tahun 2016
- Turki juga menyalahkan US, dan NATO atas dukungan mereka ke Kurdistan di Syria, yang dianggap mengancam stabilitas.
- Terakhir, seperti dilaporkan BBC News, usaha Turki untuk bergabung ke dalam European Union juga boleh terbilang sudah menabrak tembok.
Artikel dari The Independent, 13-Oktober-2017, yang ditulis Oliver Caroll menjelaskan beberapa faktor di belakang layar, kenapa tidak ada kontrak yang hitam-putih:
Salah satu alasan kenapa Saudi ingin membeli S-400 kemungkinan tujuannya adalah untuk memblokir transaski alutsista lebih lanjut antara Russia - Iran. Ini walaupun sebelumnya, Kremlin tetap saja menjual S-300 ke Iran, yang adalah lawan regional negara-negara GCC.
Lebih lanjut, artikel ini juga menggarisbawahi kalau biar bagaimanapun juga, Russia, dan Saudi Arabia sebenarnya tidak pernah saling mempercayai satu sama lain, dan mempunyai kepentingan yang berlawanan di Syria. Walaupun demikian, Saudi Arabia juga menginginkan...
... kemungkinan juga, dukungan politik luar negeri Russia atas putera mahkota kerajaan Saudi.Lebih menarik lagi, artikel ini juga melaporkan rencana investasi Saudi di Russia sendiri kelihatannya sedikit macet.
Yah, rencana akuisisi S-400 baik dari Turki, ataupun Saudi Arabia, sebenarnya lebih menunjuk suatu pernyataan politik dibanding kebutuhan.
Saudi Arabia sudah lama mengoperasikan Patriot PAC missile system, dan sudah mendapat persetujuan untuk juga mengakusisi THAAD missile system untuk anti-ballistic missile. Dengan sistem two-tier missile sistem ini, secara logika saja, tidak ada tempat untuk memasukan S-400 yang tidak akan compatible dengan semua perangkat udara Saudi yang lain, yang mayoritasnya buatan Barat.
Sedangkan Turki adalah bagian dari NATO. Artikel 5 dari NATO menggarisbawahi kalau setiap negara anggota NATO akan wajib membantu salah satu anggotanya yang menghadapi ancaman militer negara lain. Sistem pertahanan udara Turki sudah terintegrasi dengan NATO; kalau perlu, seperti sekarang, United States dapat menyokong tambah pertahanan udara mereka dengan Patriot battery. Kembali, sama seperti di Saudi Arabia, kebutuhan untuk S-400 relatif tidak ada.
Yang lebih menarik disini, sebenarnya baik Turki, ataupun Saudi menuntut Transfer-of-techology sebagai bagian dari transaksi dengan Russia. Keduanya ingin mengintegrasikannya dengan sistem networking mereka. Kita sudah tahu kalau India terus melaporkan kalau Transfer-of-Technology dari Russia itu akan mustahil, bahkan walaupun mereka membayar sebagian biaya development PAK-FA.
Apa yang akan terjadi disini kalau kontraknya akhirnya final? Kita belum tahu, tetapi India sudah pasti akan mengawasi.
Kembali ke Indonesia, kita tidak mempunyai alasan pernyataan politik yang serupa untuk lebih condong ke United States, atau ke Russia. Keduanya tidak akan peduli. Mereka hanya tertarik untuk menghitung uang yang bisa masuk hasil dari sistem akusisi kita yang sudah termasyur:
Alasan Keempat: TIDAK ADA PILIHAN LAIN
Vietnam.
Negara tetangga kita yang sudah mulai bersahabat ke United States, tidak seperti India, belum, atau tidak akan mempunyai pilihan untuk membeli alutsista vital paling tidak dalam jangka pendek-menengah, khususnya pesawat tempur dari supplier Barat.
United States tidak akan menawarkan Excess Defense Article, seperti F-16 Block-25+ ke Vietnam, walaupun ini adalah sesuatu yang diinginkan Vietnam. Di lain pihak, karena hutang-hutang masa kolonial masa lalu, negara-negara Eropa sendiri cenderung akan sangat segan untuk menjual ke Vietnam.
Vietnam, Laos, dan Kamboja sebenarnya adalah ex-koloni Perancis, yang paska-kemerdekaan masing-masing, kemudian menganut sistem pemerintahan Komunisme. Ini berkaitan dengan point kedua, hutang politik negara-negara ini semasa Perang Dingin dengan demikian akan dinilai terlalu besar untuk mulai dipercaya membeli dari para supplier Barat.
Untuk Vietnam, pilihannya hanya membeli Su-27/30 versi export, atau MiG-29 versi export. Status quo ini baru bisa berubah kalau kekacauan di Laut Cina Selatan yang sekarang bisa semakin meruncing.
Sedangkan Indonesia selalu mempunyai pilihan ketiga agar tidak tergantung kepada para penjual versi export downgrade:
Penutup: Kita tidak perlu mencontoh negara lain
Penjajahan para penjual barang Versi Export pasca Perang Dunia II.
Sayangnya, penjajahan semacam inilah yang sekarang sedang diinginkan oleh para agen sales di Indonesia yang terus mencoba mengejar kontrak untuk barang....
"....versi export downgrade dari pesawat bertehnologi kuno, yang gampang rusak, biaya operasionalnya akan melebihi anggaran yang tersedia, dan harus dibiayai dengan komisi perantara dari kini hingga selamanya, dan hanya bisa dipersenjatai dengan missile versi export downgrade dari tehnologi 1980-an."
Panglima Besar Jendral Sudirman, dan para pahlawan perang kemerdekaan (1945 - 1949) akan menangis dalam kubur mereka melihat penjajahan versi dua ini.
Panglima Besar Jendral Sudirman, dan para pahlawan perang kemerdekaan (1945 - 1949) akan menangis dalam kubur mereka melihat penjajahan versi dua ini.
Tidak.
Tidak seperti negara-negara NATO, atau GSC, kita tidak pernah perlu membayar "asuransi premium" ke negara asing, baik ke Washington DC, ataupun ke Moscow. Sebaliknya juga tidak ada satupun negara-negara penjual versi export yang tertarik untuk menjadikan negara kita sekutu dekat yang "serupa".
Kita juga tidak berhutang apapun juga baik secara politik, ataupun kebutuhan strategis, baik ke Moscow, ataupun Washington DC. Dan tentu saja, kita tidak mempunyai motivasi untuk memajukan kepentingan politik melalui akuisisi alutsista.
Kita juga tidak berhutang apapun juga baik secara politik, ataupun kebutuhan strategis, baik ke Moscow, ataupun Washington DC. Dan tentu saja, kita tidak mempunyai motivasi untuk memajukan kepentingan politik melalui akuisisi alutsista.
Sudah saatnya kita merdeka dari penjajahan barang-barang versi export yang tidak bisa menjamin kedaulatan ini. Para agen sales menginginkan supplier versi export untuk mendapat kontrol penuh atas apa yang diperbolehkan untuk kita pergunakan secara mandiri.
Sudah saatnya belajar untuk mencapai kemandirian, dan kedaulatan dalam alutsista, dan mengurangi ketergantungan dari supplier-supplier luar yang memang tidak tertarik untuk bekerja sama dengan industri pertahanan lokal.
https://gripen-indonesia.blogspot.com/
Sudah saatnya belajar untuk mencapai kemandirian, dan kedaulatan dalam alutsista, dan mengurangi ketergantungan dari supplier-supplier luar yang memang tidak tertarik untuk bekerja sama dengan industri pertahanan lokal.
![]() |
| TOPIK BERIKUTNYA:Kenapa 64 Gripen sudah jauh lebih banyak dibandingkan 180 pesawat tempur "renstra" (Gambar: Saab) |





















Komentar
Posting Komentar