Efek Gentar Teknolgi Pesawat Tempur?
![]() |
| Memenuhi Kebutuhan sekarang, dan masa depan, bukan Keinginan jangka pendek |
Penentu utama, dan dasar dari segala "Efek Gentar" adalah System Operasional modern yang terpadu; bukan jenis pesawat tempur, fitur Stealth, twin-engine design, jenis BVR missile, Thrust-Vector-Control, atau segala macam pernak-pernik yang lain. Kalau dari segi Sistem memang kemampuannya lebih unggul, segala sesuatu akan bekerja dengan baik, bahkan bisa melebihi apa yang dibayangkan pembuatnya sendiri.
Erich Hartmann, pilot Jerman yang berhasil menembak jatuh 352 pesawat sepanjang Perang Dunia II, sudah memberitahukan rahasia dari semua kemenangannya:
"Delapan puluh persen (80%) dari pesawat lawan yang saya tembak jatuh,
TIDAK PERNAH melihat pesawat saya."
Delapan puluh persen.
Formula yang dipakai Hartmann adalah: See-Observe-Attack-Reverse. Melihat lawan terlebih dahulu, mempelajari lawan, menyerang; dan terakhir, disengage dari konflik, dan mengamati kembali apa yang sudah terjadi. Seperti bisa dilihat, Hartmann selalu menguasai medan tempur, sedang lawan tidak. Hartmann tidak pernah tertembak jatuh lawan, dan setiap lawan yang tertembak jatuh, tidak pernah mempunyai kesempatan besar untuk bisa menang.
Superior Situational Awareness.
Tidak seperti di tahun 1940-an dipraktekkan Erich Hartmann seorang diri, dewasa ini "Efek gentar" akan ditentukan oleh Empat faktor utama, yang akan saling mendukung satu sama lain.
Sistem Operasional: 40% dari Efek Gentar
"Pesawat tempur A efek gentarnya tinggi!"
Kesalahan awam, yang seringkali dibuat terlalu banyak analisa dari pengamat "ahli".
Bisa memproduksi, atau membeli satu jenis pesawat tempur, atau alutsista yang kemampuannya sehebat apapun, dan bisa belajar memakainya, BUKAN BERARTI akan bisa mengoperasikannya secara efektif di dalam konflik.
Pesawat tempur (atau alutsista manapun), yang tidak dioperasikan menurut prosedur operasional modern yang sudah teruji, dan terpadu dengan semua asset pendukung lain, hanya akan selalu menjadi seperti bebek yang hanya akan mengantri untuk disembelih satu per satu.
Apakah Erich Hartmann, yang sudah menembak jatuh lebih banyak pesawat daripada pilot manapun, begitu berhasil karena pesawatnya luar biasa hebat? Atau apakah sebagai pilot, memang luar biasa berbakat?
Seperti bisa dilihat di daftar Top Flying Aces selama Perang Dunia II, sebenarnya lebih dari 107 pilot Luftwaffe Jerman yang berhasil menembak jatuh lebih dari 100 pesawat lawan. Hartmann sendiri mengakui kalau tidak mahir menembak lawan dari jarak jauh, melainkan harus menembak dari jarak yang sedekat mungkin, sampai membahayakan diri sendiri. Ternyata kebanyakan korban mereka adalah pesawat militer.... dari Uni Soviet. Dari 352 pesawat yang ditembak jatuh Hartmann, 345 adalah pesawat Soviet.
Pesawatnya sendiri? Kebanyakan pilot Jerman memakai Messerchmitt Bf-109, pesawat tempur generic Luftwaffe, yang mulai beroperasi sejak tahun 1937. Secara tehnis, Bf-109 dinilai hampir seimbang dengan Supermarine Spitfire, atau North American P-51 Mustang.
Dalam pertempuran 6 hari di tahun 1967, Angkatan Udara Israel, yang waktu itu lebih kecil dibanding kekuatan udara gabungan dari Mesir, Yordania, dan Syria, berhasil menghabisi 452 pesawat, dengan hanya kehilangan korban 28 pesawat. Di masa itu, Mirage IIICJ buatan Perancis, yang dipakai Israel, tidaklah jauh lebih unggul dibanding MiG-21 buatan Soviet. Sejak tahun 1967 ini, tentu saja tidak pernah lagi terjadi perubahan yang berarti.
Kenapa demikian?
Secara fundamental, baik Luftwaffe di tahun 1940-an, ataupun Israel sejak tahun 1967, mempunyai dasar Sistem Operasional, yang jauh lebih unggul, dalam hal ini dibandingkan sistem operasional ala Soviet, yang terlalu mengandalkan jumlah, dan strategi yang kurang fleksibel.
Dewasa ini sudah berbeda dengan tahun 1940-an, atau masa Operation Mole Cricket-19, dimana Israel berhasil menghancurkan sistem pertahanan udara ala Sistem Soviet. Erich Hartmann, sering beroperasi seorang diri dan mempraktekan sistem-nya. Angkatan Udara Israel, di masa lalu, masih lebih beroperasi secara independen. Dewasa ini, kunci dari Sistem Operasional Modern, adalah Integrasi antar alutsista setiap Angkatan yang terlibat dalam medan tempur.
Sistem Operational Modern memang bukan sesuatu yang terlihat di kasat mata, sebagaimana pembelian alutsista baru, tetapi ini adalah DASAR, yang harus memenuhi persyaratan berikut:
Kesalahan awam, yang seringkali dibuat terlalu banyak analisa dari pengamat "ahli".
Bisa memproduksi, atau membeli satu jenis pesawat tempur, atau alutsista yang kemampuannya sehebat apapun, dan bisa belajar memakainya, BUKAN BERARTI akan bisa mengoperasikannya secara efektif di dalam konflik.
Pesawat tempur (atau alutsista manapun), yang tidak dioperasikan menurut prosedur operasional modern yang sudah teruji, dan terpadu dengan semua asset pendukung lain, hanya akan selalu menjadi seperti bebek yang hanya akan mengantri untuk disembelih satu per satu.
Apakah Erich Hartmann, yang sudah menembak jatuh lebih banyak pesawat daripada pilot manapun, begitu berhasil karena pesawatnya luar biasa hebat? Atau apakah sebagai pilot, memang luar biasa berbakat?
Seperti bisa dilihat di daftar Top Flying Aces selama Perang Dunia II, sebenarnya lebih dari 107 pilot Luftwaffe Jerman yang berhasil menembak jatuh lebih dari 100 pesawat lawan. Hartmann sendiri mengakui kalau tidak mahir menembak lawan dari jarak jauh, melainkan harus menembak dari jarak yang sedekat mungkin, sampai membahayakan diri sendiri. Ternyata kebanyakan korban mereka adalah pesawat militer.... dari Uni Soviet. Dari 352 pesawat yang ditembak jatuh Hartmann, 345 adalah pesawat Soviet.
Pesawatnya sendiri? Kebanyakan pilot Jerman memakai Messerchmitt Bf-109, pesawat tempur generic Luftwaffe, yang mulai beroperasi sejak tahun 1937. Secara tehnis, Bf-109 dinilai hampir seimbang dengan Supermarine Spitfire, atau North American P-51 Mustang.
Dalam pertempuran 6 hari di tahun 1967, Angkatan Udara Israel, yang waktu itu lebih kecil dibanding kekuatan udara gabungan dari Mesir, Yordania, dan Syria, berhasil menghabisi 452 pesawat, dengan hanya kehilangan korban 28 pesawat. Di masa itu, Mirage IIICJ buatan Perancis, yang dipakai Israel, tidaklah jauh lebih unggul dibanding MiG-21 buatan Soviet. Sejak tahun 1967 ini, tentu saja tidak pernah lagi terjadi perubahan yang berarti.
Kenapa demikian?
Secara fundamental, baik Luftwaffe di tahun 1940-an, ataupun Israel sejak tahun 1967, mempunyai dasar Sistem Operasional, yang jauh lebih unggul, dalam hal ini dibandingkan sistem operasional ala Soviet, yang terlalu mengandalkan jumlah, dan strategi yang kurang fleksibel.
Dewasa ini sudah berbeda dengan tahun 1940-an, atau masa Operation Mole Cricket-19, dimana Israel berhasil menghancurkan sistem pertahanan udara ala Sistem Soviet. Erich Hartmann, sering beroperasi seorang diri dan mempraktekan sistem-nya. Angkatan Udara Israel, di masa lalu, masih lebih beroperasi secara independen. Dewasa ini, kunci dari Sistem Operasional Modern, adalah Integrasi antar alutsista setiap Angkatan yang terlibat dalam medan tempur.
Sistem Operational Modern memang bukan sesuatu yang terlihat di kasat mata, sebagaimana pembelian alutsista baru, tetapi ini adalah DASAR, yang harus memenuhi persyaratan berikut:
- Penguasaan Superior Situational Awareness yang HARUS lebih baik daripada lawan. Kemampuan untuk mengawasi keadaan tidak hanya dalam radius beberapa kilometer di sekitar masing-masing asset, tetapi juga seluruh medan tempur yang luasnya bisa ribuan kilometer per segi.
- Komunikasi. Setiap asset yang operasional harus sudah terkoneksi satu sama lain, dapat men-transmit komunikasi secara real-time, dan aman dari ancaman jamming lawan.
- Standard Operating Procedure dan strategi dasar untuk kerjasama antar alutsista, dalam menghadapi ribuan macam skenario tempur, yang sifatnya sendiri harus fleksibel, dan siap beradaptasi dengan mudah seiring untuk menghadapi faktor yang tak terduga.
- Kemampuan untuk Optimalisasi Kemampuan setiap Alutsista. Kalau menurut brosur diiklankan kemampuannya hanya segini, seberapa jauh Militer suatu negara akan dapat mendorong kemampuan asset mereka melebihi apa yang diiklankan? Israel, misalnya, sudah terbukti dapat memakai F-16 mereka jauh lebih baik dibanding semua negara lain, termasuk USAF.
- Tidak kalah penting, Training adalah bagian yang terintegrasi dari sistem. Sistem yang baik, adalah sistem yang dapat memproduksi kualitas pilot, tentara, atau awak kapal yang kemampuannya melebihi negara lain.
- Persyaratan terakhir, adalah kemauan untuk terus belajar. Seluruh sistem harus dibuat cukup fleksibel, agar dapat terus berevolusi mengikuti perkembangan jaman. Jenis persenjataan, atau strategi baru akan terus diperkenalkan dari tahun ke tahun. Dan strategi yang dulu masih bekerja di tahun 2005, kemungkinannya di tahun 2020 sudah tidak lagi relevan.
Sistem yang baik adalah dasar dari efek gentar militer negara manapun. Dewasa ini, kebanyakan negara yang militernya sudah lebih mapan, termasuk Australia, dan Singapore, memilih untuk terus mengembangkan Sistem, yang akan meningkatkan terus kemampuan semua asset mereka yang sudah ada.
"Efek Gentar" mustahil untuk bisa didapat dari prosedur "asal beli" alutsista hanya demi mengejar jumlah, dan mengacuhkan partisipasi industri pertahanan lokal, seperti dibawah.
"Efek Gentar" mustahil untuk bisa didapat dari prosedur "asal beli" alutsista hanya demi mengejar jumlah, dan mengacuhkan partisipasi industri pertahanan lokal, seperti dibawah.
Kedaulatan Alutsista, dan dukungan industri pertahanan lokal: 20% Efek Gentar
![]() |
| Alih Tehnologi BUKAN hubungan satu arah guru-ke-murid, melainkan dasar dari kerjasama PARTNERSHIP yang dua arah. |
Sayangnya, peranan industri pertahanan lokal di negara kita terlalu dipandang remeh, terutama oleh para "pejabat", yang kelihatannya lebih senang beli import, dibanding mengoperasikan produk license production sendiri, yang 30% dari nilai belinya dapat diinvestasikan kembali ke ekonomi lokal.
Dalam setiap konflik udara sejak tahun 1914, tidak pernah ada pihak yang bisa memenangkan konflik, kalau industri lokalnya tidak mempunyai kemampuan untuk mendukung. Semakin maksimal sokongan industri lokal, semakin optimal kemampuan tempur militernya.
Negara kita tentu saja tidak bisa begitu saja mereplikasi apa yang sudah dicapai dengan sempurna di United States, Russia, ataupun di negara-negara Eropa. Perbedaan kemampuan, pengalaman, atau tehnologi kita terlalu jauh kalau mencoba mengejar target "membuat pesawat tempur sendiri".... dengan partner yang kemampuannya tidak jelas. Ini hanya akan seperti katak yang merindukan bulan.
Perlu rasionalisasi disini. Apa yang kita perlu kejar adalah:
Apakah bisa memperhatikan apa yang berbeda disini?
Embraer Brazil sudah melakukan customisasi habis-habisan untuk meng-upgrade kemampuan F-5BR melebihi spesifkasi dasarnya. Seperti bisa dilihat, apa yang mencolok pertama kali, adalah keberadaan refueling probe di moncong pesawat, yang memberikan short-ranged F-5BR kemampuan untuk melakukan air-to-air refueling. Kebanyakan perubahan lain tidak terlihat. HUD (Heads-Up-Display), Sistem Avionic baru, INS/GPS Navigation, dua komputer baru, Multifunctional coloured-LCD, Night Vission Goggles, dan kemampuan untuk beroperasi dalam National Network SIVAM.
Kalau masih belum cukup garang, F-5BR juga mempunyai Helmet-Mounted Display, dan dapat dipersenjatai dengan offboresight WVR missile; MAA-1 Piranha (buatan Brazil), Phyton-3, Phyton-4, dan bahkan mempunyai kemampuan BVR, dengan membawa Derby missile.
Dalam setiap konflik udara sejak tahun 1914, tidak pernah ada pihak yang bisa memenangkan konflik, kalau industri lokalnya tidak mempunyai kemampuan untuk mendukung. Semakin maksimal sokongan industri lokal, semakin optimal kemampuan tempur militernya.
Negara kita tentu saja tidak bisa begitu saja mereplikasi apa yang sudah dicapai dengan sempurna di United States, Russia, ataupun di negara-negara Eropa. Perbedaan kemampuan, pengalaman, atau tehnologi kita terlalu jauh kalau mencoba mengejar target "membuat pesawat tempur sendiri".... dengan partner yang kemampuannya tidak jelas. Ini hanya akan seperti katak yang merindukan bulan.
| Program Hambalang II - masa depan program IF-X (Gambar: Kompas) |
- Alih tehnologi yang seoptimal mungkin, dan peningkatan kemampuan industri lokal, dengan persyaratan yang melebihi apa yang digariskan dalam UU no.16/2012.
- Kemandirian untuk mengoperasikan alutsista secara independent, bebas dari pengaruh luar. Kalau memerlukan upgrade yang pelik, maintenance, atau perbaikan yang berat, apakah kita akan harus tergantung ke belas kasihan supplier utama?
- Kemampuan untuk mengadaptasikan semaksimal mungkin pesawat tempur tersebut untuk menghadapi realita tantangan pertahanan negara kepulauan.
- Berkaitan dengan System, seperti diatas, apakah kelak kita akan dapat mendorong optimalisasi kemampuan Alusista kita melebihi apa yang diiklankan?
F-5BR Angkatan Udara Brazil.
Apakah bisa memperhatikan apa yang berbeda disini?
Embraer Brazil sudah melakukan customisasi habis-habisan untuk meng-upgrade kemampuan F-5BR melebihi spesifkasi dasarnya. Seperti bisa dilihat, apa yang mencolok pertama kali, adalah keberadaan refueling probe di moncong pesawat, yang memberikan short-ranged F-5BR kemampuan untuk melakukan air-to-air refueling. Kebanyakan perubahan lain tidak terlihat. HUD (Heads-Up-Display), Sistem Avionic baru, INS/GPS Navigation, dua komputer baru, Multifunctional coloured-LCD, Night Vission Goggles, dan kemampuan untuk beroperasi dalam National Network SIVAM.
Kalau masih belum cukup garang, F-5BR juga mempunyai Helmet-Mounted Display, dan dapat dipersenjatai dengan offboresight WVR missile; MAA-1 Piranha (buatan Brazil), Phyton-3, Phyton-4, dan bahkan mempunyai kemampuan BVR, dengan membawa Derby missile.
Kemampuan manuever F-5 yang ukurannya kecil, dan less draggy,
akan lebih dari cukup untuk mengimbangi F-22.
Berkat kerjasama antara FAB, dan Embraer, F-5BR Brazil secara tehnis jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding semua pesawat tempur TNI-AU dewasa ini. Tidak mengherankan mereka cepat mencoret Su-35K dalam babak penyisihan kompetisi F-X tempo hari - F-5BR adalah pesawat tempur yang jauh lebih mematikan dalam pertempuran udara, jauh lebih reliable, biaya operasionalnya murah, dan dapat beroperasi dalam SATU SYSTEM.
Bentuk kerjasama semacam inilah yang perlu direplikasi TNI-AU, dengan seluruh industri pertahanan Nusantara: Kemampuan untuk mengoptimalkan apa yang ada, dan mendorong kemampuannya melebihi spesifikasi dasarnya.
![]() |
| Sovereign Air Power: Kebebasan untuk menentukan Kemampuan Tempur, Upgrade, maintenance, persenjataan, atau mengembangkan inovasi sendiri Tidak bisa didikte oleh supplier luar! |
Kembali inilah salah satu alasan lain kenapa kita harus mencoret semua daftar pesawat tempur Versi Export Downgrade; Sukhoi (versi manapun), F-16, dan IF-X. Ketergantungan ke Washington DC, atau Moscow, berarti untuk selamanya, semua kunci operasional ketiga model ini sepenuhnya akan ditangan mereka.
Training: 20% dari Efek Gentar
Training, seperti sudah disebut diatas, sebenarnya adalah bagian dari sistem operasional yang terpadu.
Untuk lebih mudahnya, perhatikan perumpamaan berikut.
Semisal, kalau anda boleh mengemudikan Porsche Carrera GT, atau Lamborghini Gallardo, apakah anda bisa mengalahkan Lewis Hamilton, yang hanya mengendarai Toyota Corolla, di Nürburgring circuit?
Anda tidak akan mungkin menang. Hamilton sudah menguasai semua detail sirkuit Nürburgring, dan sudah menempa pengalaman puluhan tahun dalam F1. Hamilton kemampuannya lebih tinggi, tidak hanya karena dia sering latihan, tapi dia juga sudah menguasai Sistem Advanced Driving, yang tidak akan bisa dikuasai kebanyakan orang.
Di tahun 2007, Michael Schumacher, karena agak terlambat, pernah meminta ijin ke sopir taxi-nya, untuk mengemudikan taxi-nya sendiri ke Airport dalam perjalanan berjarak tempuh 19 kilometer. Taxi ini hanyalah mobil van Opel Vivaro, yang kecepatan maksimumnya hanya 163 kph. Ini bukan masalah. Schumacher, dapat membuat mobil van yang "inferior" ini untuk mengambil tikungan jauh lebih cepat, dapat menyusul kendaraan lain dalam manuever yang tidak bisa dibayangkan orang, dan akhirnya sampai tepat waktu.
Demikian juga dalam konflik pertempuran di udara.
![]() |
| Setiap pilot pesawat tempur harus mengikuti hukum Bruce Lee: Harus lebih banyak latihan, dan mengumpulkan pengalaman Kalau tidak, ya sudah pasti kalah |
Sepanjang sejarah sejak tahun 1914, belum pernah ada pilot yang masih hijau, yang dapat mengalahkan pilot yang jauh lebih terlatih, dan lebih berpengalaman, apalagi kalau sudah ditempa dalam sistem standard NATO. Ini sama seperti pengemudi yang baru mendapat SIM, lantas mau mencoba berlomba melawan pembalap F1.
Pilot F-22 berbiaya operasional mahal, yang baru mengumpulkan 50 jam, dapat dipercundangi dalam latihan oleh pilot F-16 Aggressor, yang sudah mengumpulkan jam latihan ratusan jam per tahun.
![]() |
| Cuplikan dari Air Force Magazine, 2007 (Link: Wired) Pelajaran disini: Jenis pesawat tempur bukanlah penentu utama "efek gentar" |
Untuk mencapai nilai efek gentar penuh, akan tergantung seberapa baik Angkatan Udara modern dapat menghasilkan pilot pesawat tempur, yang memiliki kualitas performa, bagaikan Michael Schumacher, atau Lewis Hamilton. Sama seperti dalam F1, ini akan membutuhkan System terlebih dahulu, dan tentu saja banyak jam latihan terbang.
Dalam industri, dan tehnologi persawat tempur, semenjak dahulu sudah selalu terbukti kalau biaya operasional Single-engined fighter akan selalu jauh lebih murah dibanding Twin-Engine. Malahan kalau anggaran pertahanan negara pengguna terbatas, maka semakin mahal biaya operasional, semakin kecil efek gentarnya.
Dalam industri, dan tehnologi persawat tempur, semenjak dahulu sudah selalu terbukti kalau biaya operasional Single-engined fighter akan selalu jauh lebih murah dibanding Twin-Engine. Malahan kalau anggaran pertahanan negara pengguna terbatas, maka semakin mahal biaya operasional, semakin kecil efek gentarnya.
Dan karena secara desain lebih sederhana, F-16, atau Gripen, akan selalu dapat mengudara berkali-kali dalam sehari, dibandingkan F-15, Typhoon, F-18SH, atau Rafale. Hanya karena bisa lebih sering terbang, 48 Gripen akan dapat menghabisi 48 Sukhoi dalam waktu tiga hari.
Lebih banyak mengudara, berarti lebih banyak jam latihan untuk pilot, yang akan jauh lebih optimal, kalau dapat beroperasi menurut system yang baik, seperti diatas.
Pesawat Tempur: Hanya 20% dari Efek Gentar
Dengan demikian, pesawat tempur yang efek gentarnya tinggi, adalah pesawat tempur yang sudah terlebih dahulu memenuhi semua persyaratan diatas.
Miskonsepsi umum adalah kita harus mengoperasikan pesawat tempur yang terhebat.
Keliru.
Masalah pertama saja, pesawat tempur "huebat", bukan berarti akan mempunyai kemampuan untuk memproduksi pilot, yang mempunyai kualitas kemampuan seperti Michael Schumacher, dan inilah salah satu faktor yang akan menentukan dalam pertempuran udara.
Miskonsepsi "pesawat huebat" memang dipelopori di Media Barat, terutama dipopulerkan oleh kedua penulis blog fiksi ilmiah Australian Air Power. Hanya bisa mempunyai pesawat yang lebih unggul, bukan berarti mempunyai kemampuan untuk mengoperasikannya lebih baik dari negara lain, yang sudah memenuhi kesemua persyaratan diatas. Tidak ada system, tidak ada industri pendukung, dan tanpa cukup training menurut system, ini hanya akan seperti membuang garam ke laut. Efek gentar Nihil.
Ini bukan berarti lalu kita harus mulai memborong F-5E, untuk mereplikasi kemampuan F-5BR Brazil. Untuk mendapat nilai efek gentar yang penuh, pesawat tempur yang baik dewasa ini harus memenuhi semua persyaratan standard di Abad ke-21:
Miskonsepsi umum adalah kita harus mengoperasikan pesawat tempur yang terhebat.
![]() |
| Seperti dalam novel / film Firefox, pesawat Soviet yang jauh lebih unggul dari manapun! |
Keliru.
Masalah pertama saja, pesawat tempur "huebat", bukan berarti akan mempunyai kemampuan untuk memproduksi pilot, yang mempunyai kualitas kemampuan seperti Michael Schumacher, dan inilah salah satu faktor yang akan menentukan dalam pertempuran udara.
Miskonsepsi "pesawat huebat" memang dipelopori di Media Barat, terutama dipopulerkan oleh kedua penulis blog fiksi ilmiah Australian Air Power. Hanya bisa mempunyai pesawat yang lebih unggul, bukan berarti mempunyai kemampuan untuk mengoperasikannya lebih baik dari negara lain, yang sudah memenuhi kesemua persyaratan diatas. Tidak ada system, tidak ada industri pendukung, dan tanpa cukup training menurut system, ini hanya akan seperti membuang garam ke laut. Efek gentar Nihil.
Ini bukan berarti lalu kita harus mulai memborong F-5E, untuk mereplikasi kemampuan F-5BR Brazil. Untuk mendapat nilai efek gentar yang penuh, pesawat tempur yang baik dewasa ini harus memenuhi semua persyaratan standard di Abad ke-21:
- Apakah Kemampuan Kinematis, dan Manuever-nya akan dapat mengimbangi, atau melebihi tolok ukur F-16?
- Apakah mempunyai Sensor Fusion, dan fully-networked?
- Apakah dapat membawa persenjataan, atau perlengkapan paling modern, yang tersedia? Tentu saja, lebih baik, kalau tidak perlu tergantung ke hanya satu supplier senjata, seperti halnya produk versi export.
![]() |
| Kalau mau "anti-embargo", beli beraneka ragam missile, bukan jenis pesawat tempur. |
- Apakah akan dapat membawa semua Integrated Defense Suite Modern untuk memastikan sulit ditembak lawan?
- Apakah biaya operasionalnya akan terjangkau, agar dapat lebih banyak latihan, dan dapat memproduksi pilot yang kualitasnya lebih unggul?
- Apakah akan dapat mudah di-upgrade, untuk mengikuti perkembangan jaman?

Upgrade-nya juga tidak semahal F-16.
sumber:
https://gripen-indonesia.blogspot.com/















Komentar
Posting Komentar