Agen Sales dalam konteks alutsista?

 

Memahami Agen Sales Alutsista

Gripen 39-8  Credit: Saab
Kita sering mendengarkan istilah "agen sales" yang diumbar dalam terlalu banyak formil Indonesia.

Sebelum asal bunyi; memangnya apakah kita mengetahui pengertian dari kata "agen sales" dalam konteks alutsista?

Dasar pengertian agen sales adalah si penjual yang bekerja untuk suatu perusahaan, dan menerima komisi dari hasil penjualannya. Dalam konteks alutsista, agen sales bisa datang dalam bentuk, rupa, atau pangkat apapun. Yang menarik, setiap negara biasanya mempunyai agen sales yang bekerja untuk kepentingan negara lain, terlepas dari kontraknya G-to-G, atau bukan. Mereka dapat dimotivasi oleh keuntungan finansial (komisi), kalau memakai perantara, atau perhitungan pemerasan politik. 

Prioritas utama "agen sales" biasanya adalah pembelian produk import, secepat mungkin, dan tanpa perlu pusing membuat perhitungan apapun. Yang paling penting, prioritas utama si tukang obat adalah untuk menjual mimpi dengan obat yang pasti tokcer. Sekali tegak pasti sembuh!

Kebutuhan negara, dan rakyat? Tunggu dulu. 
    Mari belajar mengenali beberapa ciri khas istimewa dari para agen sales dalam akusisi pesawat tempur, dan mari kembali memprioritaskan perhitungan "Indonesia First!"

    Pertama: Kompetisi Alutsista harus selalu terbuka

    Contoh Kriteria Evaluasi AU Swiss yang membandingkan Ketiga Eurocanards
    (Gambar: AINonline)

    Apakah pernah ada studi yang sama di Indonesia?
    Indonesia First.

    Bukan supplier asing.

    Memilih single-sourcing supplier adalah mimpi indah dari setiap agen sales, dan semua antek-antek online mereka. 

    Single-sourcing tanpa adanya kompetisi terbuka T I D A K  A D I L untuk seluruh rakyat setiap negara. Tanpa adanya kompetisi terbuka untuk memperbandingkan segala sesuatu, kita secara efektif akan memberikan H A K monopoly kepada single-sourcing supplier ini, apalagi kalau tanpa adanya partisipasi industri lokal yang jelas. Inilah yang dinamakan meng-korupsi kebutuhan negara, baik dalam nama alasan politik, ataupun kemungkinan juga... motivasi finansial.

    Loh, memangnya kita berhutang apa ke si supplier asing hingga memberikan mereka hak monopoly istimewa?

    Silahkan saja membuang sebanyak mungkin uang rakyat ke kantong si supplier tanpa perlu harus dikoreksi lebih lanjut!

    Inilah kenapa kompetisi terbuka seperti dalam contoh Swiss di tahun 2008, harus menjadi prioritas utama. Setiap kompetitor harus belajar untuk lebih terbuka, tidak hanya dalam kemampuan tempur produk, melainkan juga dalam beberapa hal berikut:
    • Apakah pesawat tempur secara mendasar akan bisa memenuhi persyaratan kebutuhan negara?
    • Berapa biaya lifecycle cost untuk produk tersebut selama 30 tahun ke depan?
    • Seberapa jauh support yang akan ditawarkan 30 tahun ke depan? Bentuk upgrade apa saja yang sudah direncanakan?
    • Seberapa jauh si supplier akan menawarkan kerjasama dengan industri pertahanan lokal? 
    • Tidak kalah pentingnya, faktor politik, yang juga harus diperhitungkan.
    Seperti dapat kita pelajari dari contoh kompetisi di Swiss; apa yang diperbandingkan disini bukan lagi terbatas ke pesawat tempur, melainkan juga..... 


    Seberapa jauh Transparansi, dan Kemampuan Supplier untuk memenuhi kebutuhan?

    Persyaratan pertama, tentu saja selalu jelas: Setiap supplier harus dapat mengajukan kontrak dalam bentuk Government-to-Government, atau mem-bypass kebutuhan finansial para perantara, dan antek-antek "agen sales" mereka. Sayangnya, dunia ini memang tidak adil, karena salah satu pilihan pesawat tempur Indonesia seharusnya sudah di-write off sejak lama.

    Apalagi mengingat kalau kalau supplier favorit biased dalam pesawat tempur di Indonesia, adalah dari negara yang peringkat korupsi industri pertahanannya sangat tinggi, menurut Transparancy International, dan problem supply chain-nya akan terjamin bermasalah:
    20% Anggaran pertahanan Russia dikorupsi
    (US$ 10 milyar menurut angka tahun 2011);
    Sumber: Reuters

    Tentu saja, tidak ada perkembangan yang berarti dewasa ini

    Transparancy.org.ru menggarisbawahi dalam PDF file tahun 2017 ini,
    kalau korupsi tetap endemic di dalam anggaran pertahanan Russia
    Tentu saja, kesemua faktor ini tidak dalam kepentingan para "agen sales". Seperti dalam pasal pertama pengertian "agen sales", produk asing pilihan mereka, dan menutup kontrak secepat mungkin, adalah prioritas utama. Memaksa memilih satu supplier tanpa perlu dipertanyakan akan menjadi sorga bagi keuntungan maksimal para "agen sales".

    Seyogjanya, dalam rangka memberantas korupsi, semua negara supplier alutsista juga harus dituntut dari negara yang lebih terjamin dalam memberantas korupsi, bukan negara supplier yang pejabatnya sendiri saja sudah sibuk dengan berebut kickback, dan menulis kontrak palsu. 



    Pemahanan konteks Keamanan Negara

    Satu-satunya wilayah yang paling mungkin terjadi konflik dengan negara lain di Indonesia,
    hanyalah di Laut Natuna Utara...
    Terlebih dahulu kita harus memahami latar belakang regional, kalau kawasan Asia Tenggara ini sendiri adalah salah satu kawasan yang paling aman di dunia.

    Semenjak tahun 1945 hingga sekarang, tidak pernah ada perang antar negara yang kemudian tidak pernah diakhiri dengan perjanjian damai, seperti halnya di Korea. Tidak pernah ada perseteruan territorial yang berlarut-larut, seperti halnya daerah Kashmir antara India - Pakistan.


    Ancaman militer langsung ke Indonesia sebenarnya tidak ada.

    Para agen sales menggarisbawahi kebutuhan produk favorit-nya, dengan mencoba menggambarkan skenario (fiktif) dimana suatu hari akan ada pihak luar yang luar biasa mengerikan, yang mencoba mengancam kedaulatan Indonesia. 

    Nah, pertanyaannya, negara aggressor yang mana?

    Kenyataannya, sepanjang sejarah tidak pernah ada negara di kawasan Asia Tenggara ini yang menyatakan perang ke Indonesia. Sebaliknya juga, tidak pernah ada kebutuhan politik untuk memerangi salah satu negara kita. Semua negara tetangga Indonesia, baik semua anggota ASEAN, ataupun Australia sudah memelihara hubungan yang semakin bersahabat dalam 70 tahun terakhir. 

    "Proxy war" di Indonesia? 

    Eh, sebenarnya tidak dalam kepentingan negara manapun untuk melihat Indonesia yang terpecah belah. Baik negara-negara ASEAN lain, ataupun Australia justru tidak akan mentoleransi justru kemungkinan terjadinya perang saudara di halaman depan mereka. Untuk apa pusing dan bersusah payah berperang, kalau sekarang ini kita bisa memelihara hubungan perekonomian, dan perdagangan yang erat?

    Lantas, apakah negara adidaya, seperti Russia, ataupun United States bisa menjadi biang kerok? 

    Sayangnya, perang dingin juga sudah usai. Ancaman komunis sudah tidak ada. Rakyat United States sendiri sudah lelah setelah pertualangan mereka belasan tahun yang kurang berhasil di Afganistan, Iraq, Libya, dan sekarang di Syria. Sedangkan Russia? Mereka sudah tidak lagi bisa membayar anggaran militer untuk memulai perang dingin babak kedua melawan United States, dan Uni Eropa, yang anggarannya saja puluhan kali lipat lebih tinggi dewasa ini.

    Inilah kenapa bukan tanpa alasan kalau selama 32 tahun, pemerintah Orde Baru tidaklah mengambil tindakan serius dalam membangun kekuatan TNI-AU. Besok saja juga tidak apa-apa. Kebutuhan untuk AU super kuat, dengan 180 pesawat tempur, sebenarnya tidak ada. 

    Kenyataan lain yang sudah berubah: Sejak tahun 1945, mulai dari perang Vietnam (1955 - 1975), perang Arab - Israel (1948 - 1982), sampai Afganistan (2001 - sekarang), sebenarnya sudah berubah bentuk menjadi attritional warfare; konflik yang terjadi antara kedua pihak akan berlangsung dalam banyak pertempuran skala kecil, tetapi sifatnya akan berkepanjangan, dan tidak ada usai.

    Pihak yang akan menjadi pemenang dalam attritional warfare modern adalah pihak yang dapat bertahan dalam konflik paling lama, bukan lagi pihak yang lebih kuat, atau lebih digjaya yang dapat merebut ibukota negara lawan. 

    Dalam konteks atrtritional warfare, dan pertahanan Indonesia, kemungkinannya ada negara aggressor yang berani menginjakan kaki di salah satu dari kelima pulau besar kita sendiri secara tehnis HAMPIR NIHIL. Kemungkinan yang paling besar adalah... negara aggressor karena kepentingan ekonomis di suatu wilayah, justru akan memprioritaskan mencaplok beberapa pulau kecil di perbatasan... dan berhenti disana saja!

    Sayangnya, satu-satunya ancaman nyata yang mengancam kedaulatan Indonesia ada di Laut Natuna Utara, dimana kita akan dipaksa berhadapan dengan negara yang jauh lebih profesional dalam memakai produk pilihan para agen sales:
    Su-35 Versi Export PLA-AF
    (Gambar: Chinese Military Aviation)

    Maaf, para agen sales:
    Dengan anggaran pertahanan yang mendekati US$200 milyar per tahun,
    kemampuan fotocopy beraneka ragam perangkat Russia,
    pengalaman mengoperasikan ratusan Sukhoi sejak tahun 1991,
    kemudian mengembangkan persenjataan buatan sendiri (non-Versi Export),
    PLA-AF terjamin akan jauh lebih unggul dari semua pengguna Sukhoi yang lain,

    ....dan berpotensi menjadi ancaman terbesar Indonesia di Natuna Utara
    Perubahan konsep konflik inilah yang sebenarnya membuat banyak negara, sebenarnya sudah memilih untuk membeli alutsista yang salah untuk menghadapi kenyataan, seperti F-35 Lemon II, ataupun Sukhoi Su-35K Flemon, yang adalah dua dinosaurus masa lalu yang diperuntukan masa perang dingin.... di mainland Eropa, dan bukan untuk kebutuhan pertahanan negara kepulauan! 

    Para Agen sales tentu saja tidak akan ambil pusing, atau mempelajari buku sejarah, karena prioritasnya adalah alutsista merk favorit mereka.


    Kita akan membahas dalam topik lain secara lebih mendetail, kenapa setelah perang dunia II, bentuk konflik militer sebenarnya sudah berubah. 



    Kriteria #3: Membeli Alutsista HARUS sesuai keterbatasan finansial Indonesia


    Di lain pihak, walaupun secara umum pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia terhitung yang paling besar di ASEAN, kalau PDB ini sendiri diperhitungkan ke per kapita; angka kita tidaklah terlalu bagus:
    Sumber: Wikipedia
    Agen sales senang mengumbar kalau "...perekonomian kita terbesar di Asia Tenggara, kenapa militer kita masih kekurangan alutsista...?"

    Jawabannya, karena secara per kapita, baik dihitung dari angka nominal US Dollar, ataupun dari PPP -- daya beli masyarakat secara umum, PDB individual kita nilainya masih 30% lebih rendah dibandingkan Thailand, sedangkan pendapatan per kapita Malaysia dua kali lipat lebih tinggi, sedangkan di Singapore -- hampir sepuluh kali lipat.

    Secara realita, sebagai salah satu negara yang pendapatan per kapita nominalnya masih jauh dibawah $10,000; kita masih terhitung negara berkembang, yang menuntut konsentrasi alokasi keuangan negara untuk pembangunan, dan bukan menghamburkan uang ke alutsista, apalagi untuk tuntutan pertahanan yang tidak realistis.

    Nah, kebutuhan strategis beli sebanyak mungkin TIDAK ADA,
    Kemampuan ekonomis TERBATAS;
    bagaimana memberikan justifikasi kalau kita membutuhkan pesawat tempur twin-engine untuk Indonesia?

    Sistem "Sekali pakai, buang!"

    Meragukan kalau Su-35 Versi Export bisa tahan 30 tahun
    Mengingat kedua faktor ini; Keamanan, dan Keterbatasan keuangan negara, kita sudah membuahkan beberapa persyaratan untuk pesawat tempur Nasional, yang berikutnya:
    • Biaya operasionalnya harus bisa terjangkau -- secara tehnis, persyaratan ini membuat semua pesawat twin-engine yang biaya operasionalnya fantastis menjadi tidak relevan.
    • Dan faktor kedua, semaksimal mungkin, supplier asing harus dapat menunjukkan bukti nyata partisipasi industri lokal
    Sahabat kita, si agen sales, tentu saja tidak menyukai kedua kenyataan ini. Kembali patut diingat, kalau prioritas utama agen sales adalah untuk mengedepankan produk asing, berapapun harganya, ataupun biaya operasionalnya. 

    Oh, salah satu argumen lain yang tidak kalah menariknya adalah, katanya harga pesawat tempur buatan Russia lebih murah dibandingkan buatan Barat??

    Eh, sebenarnya pernyataan ini tidak pernah menceritakan semua fakta yang sebenarnya. Untuk lebih jelas, mari kita memperbandingkan F-15SG yang dibeli Singapore dengan harga $100 juta per unit, dengan pesawat favorit di TNI-AU, barang kuno Su-30MK2:

    Kalau dihitung ke biaya per tahunan, kita yang sepuluh kali lebih miskin per kapita, sudah membayar biaya 40% lebih mahal dibandingkan Singapore, yang anggaran pertahannya juga memang sudah diperhitungkan agar lebih tinggi daripada semua negara ASEAN yang lain. Untuk menghidupi biaya mesin AL-31F yang bisa hancur sendiri secara prematur saja, para pengguna Su-30 akan harus mengganti kedua mesin seharga $3,5 juta ini minimal 4 kali sepanjang hidupnya.

    "Ah", para agen sales tertawa terbahak-bahak. "Tenang! Lihat saja, berapa banyak negara yang pernah protes mengopeasikan pesawat berefek gentar tinggi ini?"

    Maaf, pak agen sales. Ini dikarenakan mayoritas negara yang memang membeli Su-30 dari agen perantara BUMN Rostec, menurut Transparancy International, semuanya adalah negara yang peringkat korupsinya lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Lebih parah lagi, karena tidak seperti Indonesia, kesemua negara ini tidak ada yang demokratis, ataupun mempunyai pers yang cukup bebas.

    Lebih lanjut, Singapore akan menabung jauh lebih banyak jam terbang per tahun, dan mengingat mereka sudah mengoperasikan 40 unit, dengan sebagian dipangkalkan di Nevada, United States; untuk sekalian bisa membonceng supply chain F-15E USAF, biaya operasional mereka sudah bisa diketok lebih murah daripada angka $25,000 seperti dalam perhitungan ini.


    Keempat: Sudah saatnya melakukan studi kelaikan 


    Sebelum kita mengumbar soal stealthatau supermanueverablility; alias dua konsep yang sebenarnya kurang relevan dalam pertempuran udara modern yang seharusnya lebih mengutamakan SITUATIONAL AWARENESS; mari kita melihat suatu tes sederhana menurut kebutuhan, yang tanpa sengaja sudah disebut beberapa perwira tinggi TNI-AU.


    Link: Antara News, 25-April-2016
    Demikianlah pernyataan yang menarik dari ex-KSAU Agus Surpiatna di tahun 2016, mengenai kebutuhan mendasar dari pesawat tempur Indonesia.

    "Kekuatan udara yang bisa hadir cepat dimana saja!" untuk bisa mengawasi ketiga ALKI.
    "Kami tidak membutuhkan landasan mewah!
    Cukup jalan lurus 800 meter x 16 meter, dengan minimal logistic support."
    Tanpa sengaja, pernyataan ini sudah menunjukkan ke satu-satunya tipe pesawat tempur yang memang memenuhi persyaratan di atas. Tetapi, dalam konteks keterbukaan bebas dari iklan para agen sales; bagaimana kalau kita mengadakan tes untuk kompetisi terbuka?

    Bagaimana kalau masing-masing supplier, yang seharusnya beradu tender pesawat tempur, mengirim dua pesawatnya kemari, dengan persyaratan sederhana -- Masing-masing supplier harus menyediakan pesawat menurut spesifikasi yang akan dijual di Indonesia; tidak boleh asal mengirim produk Angkatan Udara lokal yang berbeda dengan versi yang akan dijual untuk export dong!
    • Untuk mewakili Rostec; dua Su-35 versi Kommercheskiy Indonesia (barangnya belum ada), 
    • Untuk mewakili Lockheed-Martin; dua F-16V Block-52ID versi export (barangnya juga belum ada), dan 
    • Untuk mewakili Saab; 2 Gripen-C MS-20 non versi export downgrade
    Link:
    TribunNews 30-Oktober-2017
    Kalau korupsi sih, lihat kembali di atas!
    Anggaran Russia sendiri saja sudah dikorup, boro-boro anggaran orang lain.

    Kalau Versi pesawat, dan persenjataan apa?
    Ya, sudah jelas jelas.

    Lebih lanjut, keenam pesawat ini dipersilahkan melakukan tes lintas Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, dengan stopover di Medan, Pekanbaru, Jakarta, Pontianak, Banjarmasin, Madiun, Makassar, Manado, Biak, sebelum akhirnya tiba di Merauke. Dalam setiap penghentian, masing-masing pesawat tidak hanya harus mengisi bahan bakar, tetapi juga mensimulasikan mempersenjatai pesawat.
    Prinsip Gripen:
    Untuk bisa menjaga wilayah udara, kita harus selalu siap setiap saat!

    Prinsip yang sederhana?
    Kebanyakan pesawat tempur modern belum tentu bisa.
    Kemudian baru Indonesia akan dapat menilai dengan seksama dari laporan yang transparan, seberapa cepat masing-masing tim akan dapat menyelesaikan lintas nusantara ini, dan berapa perhitungan biayanya? Kesulitan apa saja yang akan ditemui masing-masing tim?

    Tipe pesawat yang lulus tes lintas nusantara ini, sudah tentu akan dapat mengawasi ALKI dan memenuhi persyaratan "Kekuatan udara yang bisa hadir cepat dimana saja!"

    Apakah produk para agen sales asing mampu memenuhi persyaratan tersebut?



    Point paling penting: Sejauh mana industri pertahanan lokal akan diijinkan untuk berpartisipasi? 

    PTDI -- anak tiri yang diasingkan dalam akusisi pesawat tempur Indonesia,
    walaupun seharusnya mendapat perlindungan UU no.16/2012

    Wah, partsipasi industri pertahanan lokal... biasanya adalah sesuatu yang sangat jauh dari lubuk hati para agen sales.

    Kenapa pusing? Biarkan saja PTDI sibuk membangun pesawat-pesawat sipil, demikian komentar salah satu agen sales dalam blog ini. Industri pertahanan lokal tidak perlu ikut campur dalam investasi pengembangan alutsista pesawat tempur!

    Atau... PTDI pergi sono ke proyek macet KF-X, yang sudah 10 tahun juga tidak ada perkembangan yang berarti, hanya didikte Korea, dan sejak lengsernya Presiden Park di akhir tahun 2016 yang lampau, secara tehnis proyeknya sudah mati suri.

    Kenapa para agen sales sangat membenci partisipasi industri lokal?

    Ya, jawabannya jelas. Membuat kontrak palsu, atau mengelembungkan harga, seperti praktek korupsi di negara pembuatnya, menjadi lebih sulit. BUMN seperti PTDI, yang produk license production-nya selalu dimusuhi dalam nama import mentah, tidak bisa membayar "kickback".
    Eurocopter H225M partial production PTDI
    (Gambar: PTDI)
    Bukannya berbicara untuk meningkatkan content lokal ke H225M,
    "PTDI cuman kebagian tugas mengecat," katanya.

    Alasan apapun menjadi halal dalam nama mengutamakan pembelian import rongsokan korup AW101
    Kembali karena tidak seperti di Swiss, kita tidak memperbandingkan kedua Eurocanards yang lain, melainkan Gripen vs dua jenis rongsokan versi export downgrade edisi spesial Indonesia; disini jawabannya jelas, satu-satunya pilihan yang sebenarnya paling menguntungkan, tidak hanya industri pertahanan Indonesia, melainkan juga kedaulatan rakyat Indonesia atas Alutsista.

    Kalau sekarang ini tidak ada para agen sales, kita seharusnya memperbandingkan pilihan mana yang lebih sesuai untuk menggantikan tiga skuadron tempur TNI-AU di rentang tahun 2025 - 2030: Sku-01 dan Sku-12 dengan BAe Hawk-209, dan juga Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11:

    Gripen-C, atau Gripen-E?

    Saingan Saab hanyalah keinginan beli import mentah dari negara yang lebih korup daripada Indonesia.
      

    Penutup: Sudah saatnya para agen sales bertobat 


    Pers media massa Indonesia sendiri sebenarnya cukup bersalah dalam membiarkan para agen sales beranak pinak.

    Salah satu pertanyaan yang paling sering diutarakan wartawan dalam hampir semua acara peragaan Militer TNI biasanya: "Alutsista apa yang rencananya akan dibeli tahun ini?"

    Loh? Kok enak betul?

    Memangnya membeli alutsista, seperti membeli motor. Tinggal beli kredit bayar Rp 100 ribu saja sudah bisa bawa pulang, habisnya tidak perlu ambil pusing, karena semuanya akan tokcer?

    Pertanyaan yang seharusnya lebih tepat untuk diajukan para wartawan adalah:

    "Produk alusista apa lagi yang masih dibutuhkan, dan sudah ditawarkan untuk alih tehnologi, produksi, dan kerjasama lokal?"

    Seperti kita bisa melihat pada akhirnya, setiap agen sales alutsista mempunyai beberapa ciri khas tersendiri: 
    • Agen sales akan selalu lebih mengutamakan akuisisi produk asing, dibandingkan kebutuhan Nasional.
    • Agen sales tidak memperdulikan APBN, atau keterbatasan finansial negara, dan biasanya menginginkan kontrak harus ditutup secepat mungkin.
    • Agen sales tidak merasa perlu untuk membuat perhitungan biaya operasional untuk 30 tahun ke depan.
    • Agen sales tidak merasa perlu untuk memperhitungkan apakah alutsista tersebut hanya barang versi export downgrade. Seberapa banyak di-downgrade untuk Edisi Indonesia jauh dari pikiran si agen.
    • Agen sales tidak akan merasa perlu pusing dengan Government-to-Government contract. 
    • Agen sales biasanya tidak merasa perlu untuk mengedepankan kebutuhan industri pertahanan lokal. "UU no.16/2012? Undang-Undang apaan tuh?"
    • Tentu saja, si Agen sales tidak akan merasa perlu berapa % alutsista tersebut akan bisa diproduksi lokal.
    • Agen sales tidak merasa keberatan kalau sebanyak mungkin uang negara dihamburkan untuk kebutuhan industri negara supplier asing.
    • Agen sales tidak merasa perlu membuat perhitungan untuk upgrade, atau perlengkapan apa saja yang akan diperbolehkan untuk alutsista tersebut.
    • Kalau bisa mbok, ya, transaksinya tidak perlu transparan. Barter "menguntungkan" juga tidak apa-apa.
    Kalau dari ribuan tahun yang lampau,
    transaksi barter itu bisa "menguntungkan",
    Buat apa manusia repot-repot menciptakan uang?
    Nah, dari semua ciri khas di atas, pertanyakan saja sendiri: apakah kita sekarang sudah memenuhi semua persyaratan untuk menjadi agen sales, atau apakah kita tanpa sengaja sudah menjadi pembantu dari para oknum agen sales?

    Dengan demikian, apakah kita ini sebenarnya bekerja untuk kepentingan perusahaan asing, atau kebutuhan nasional?

    Para agen sales memang senangnya menghambat kemajuan.
    TS-1629 yang sedang melakukan high speed pass di Hills AB, Utah, US
    (USAF Photo)

    Masih jauh lebih unggul dalam segala hal vs Su-35K

    Sekali lagi, pesawat tempur untuk pengganti F-5E sebenarnya sudah tidak lagi dibutuhkan. Ditengah hiruk pikuk kampanye para agen sales, keenam unit F-16 Block-25+ terakhir, yang sudah menggantikan F-5E, baru saja menyelesaikan flight delivery dari Lockheed-Martin.

    Block-25+ bukanlah pilihan yang ideal, melainkan stopgap yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan sementara. Kalau ke-23 unit sudah dipersenjatai dengan AIM-9X, dan AMRAAM C-7, dengan sendirinya akan jauh lebih berbahaya dibandingkan Su-35K Flemon, yang hanya bisa dipersenjatai RVV-AE, atau missile kadaluarsa R-27.
    "Aku cinta padamu, R-27!"
    (Gambar: Vitaly S Kuzmin)
    Sudah saatnya membubarkan fraksi baru PKI versi-2, alias Persengkongkolan Kommercheskiy Indonesia, yang sudah menimbulkan kerugian finansial berat setiap tahun. Sementara dua model kuno dengan cockpit analog bertehnologi tahun 1980-an; TS-2701, dan TS-2702 memakan waktu 20 bulan untuk melakukan "perbaikan mendalam", yang entah memakan uang rakyat beberapa juta $$, melanggar UU no.16/2012, tetapi juga memalukan martabat Indonesia....

    Masih ingat kecelakaan mendarat darurat Gripen-C single-seater Hunggaria pada 10-Juni-2015 yang lampau?
    Gripen-30 Hunggaria setelah kecelakaan
    (Gambar: Kemhenhan Hunggaria)

    Kemenhan Hunggaria sudah mengumumkan pada 17-Desember-2016, kalau Gripen-C (sewaan) ini sudah selesai diperbaiki, dan kembali operasional. Hanya membutuhkan 18 bulan untuk memperbaiki pesawat yang rusak berat. Bandingkan dengan ulah para oknum PKI versi-2, yang tidak merasa perlu protes, kalau pekerjaan maintenance yang seharusnya dikerjakan dalam negeri ini, eh, tapi malah harus dikerjakan diluar bisa memakan waktu 20 bulan
    Gripen-30  Hunggaria yang kembali operasional 17-Desember-2016, setelah kecelakaan 10-Juni-2015
    (Gambar: Kemenhan Hunggaria)
    Untuk di Indonesia, bagaimana kalau mulai memikirkan membangun kemampuan untuk memperbaiki Gripen sendiri di kemudian hari kalau terjadi kecelakaan yang sama?

    Dari segi bisnis alutsista, ini juga membuka potensi peluang PTDI untuk bisa menjadi "Repair and Service Centre" untuk semua Gripen di Asia Tenggara.

    Itu baru namanya membangun kemandirian, dan kedaulatan alutsista. Bukan terus mempertahankan ketergantungan ke supplier asing tanpa henti.

    Dalam jangka panjang, sudah saatnya kita mengembalikan kedaulatan bangsa, dan mengamalkan amanat UU no.16/2012. Sudah saatnya menghentikan penjajahan para perantara, para agen sales, dan produk-produk versi export downgrade, dan mengembalikan kedaulatan alutsista ke rakyat Indonesia.

    sumber: https://gripen-indonesia.blogspot.com/

    Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Apa itu SOURCE CODE Pesawat Tempur?