Apa itu SOURCE CODE Pesawat Tempur?
Source Code: Kitab Suci pesawat tempur
Perhatikan terlebih dahulu cara kerja tubuh anda sendiri, seperti misalnya, proses mengambil nafas!
Pada saat anda menarik nafas, anda akan menghirup udara melalui hidung, atau mulut. Kontraksi diafram akan menarik masuk udara ke dalam paru-paru. Di dalam paru-paru, oksigen kemudian di-transfer ke dalam sel-sel darah merah, dan berbarengan dengan itu, karbon dioksida yang sebelumnya dibawa sel-sel darah merah tersebut dipindahkan kembali ke paru-paru untuk kemudian dikeluarkan kembali saat kita menghembukan nafas. Sementara itu, sel-sel darah merah dipompa ke dalam jantung, yang kemudian mensirkulasikannya ke seluruh tubuh, dan mengkoleksi balik karbon dioksida untuk dihembuskan keluar.
Semuanya ini berlangsung automatis. Anda tidak perlu berpikir, atau belajar untuk bernafas, atau bagaimana caranya mengolah makanan. Seluruh tubuh anda sudah mengatur semua proses ini secara alamiah sejak anda lahir.
Source Code pesawat tempur adalah jutaan baris programming line yang tersembunyi di dalam internal computer menentukan SEMUA FUNGSI dalam pesawat tempur modern, sama seperti bagaimana tubuh kita bekerja dengan sendirinya.
Tanpa source coding untuk fly-by-wire system, pesawat modern (tidak hanya pesawat tempur) bahkan tidak bisa lepas landas, berbelok, ataupun bermanuever di udara. Dewasa ini, komputer sudah melakukan jutaan perhitungan dalam setiap pesawat tempur setiap detik, untuk memastikan segala sesuatu bekerja semestinya. Apalagi untuk kemampuan tempurnya.
Tanpa ada Source Code, tidak akan ada pesawat tempur modern.
Seberapa jauh negara bisa memegang kontrol atas source code pesawat tempur akan menentukan kepemilikan pesawat itu sendiri.
Pada saat anda menarik nafas, anda akan menghirup udara melalui hidung, atau mulut. Kontraksi diafram akan menarik masuk udara ke dalam paru-paru. Di dalam paru-paru, oksigen kemudian di-transfer ke dalam sel-sel darah merah, dan berbarengan dengan itu, karbon dioksida yang sebelumnya dibawa sel-sel darah merah tersebut dipindahkan kembali ke paru-paru untuk kemudian dikeluarkan kembali saat kita menghembukan nafas. Sementara itu, sel-sel darah merah dipompa ke dalam jantung, yang kemudian mensirkulasikannya ke seluruh tubuh, dan mengkoleksi balik karbon dioksida untuk dihembuskan keluar.
Semuanya ini berlangsung automatis. Anda tidak perlu berpikir, atau belajar untuk bernafas, atau bagaimana caranya mengolah makanan. Seluruh tubuh anda sudah mengatur semua proses ini secara alamiah sejak anda lahir.
Source Code pesawat tempur adalah jutaan baris programming line yang tersembunyi di dalam internal computer menentukan SEMUA FUNGSI dalam pesawat tempur modern, sama seperti bagaimana tubuh kita bekerja dengan sendirinya.
Tanpa source coding untuk fly-by-wire system, pesawat modern (tidak hanya pesawat tempur) bahkan tidak bisa lepas landas, berbelok, ataupun bermanuever di udara. Dewasa ini, komputer sudah melakukan jutaan perhitungan dalam setiap pesawat tempur setiap detik, untuk memastikan segala sesuatu bekerja semestinya. Apalagi untuk kemampuan tempurnya.
Tanpa ada Source Code, tidak akan ada pesawat tempur modern.
Seberapa jauh negara bisa memegang kontrol atas source code pesawat tempur akan menentukan kepemilikan pesawat itu sendiri.
Source Code: Keunggulan utama, atau KELEMAHAN setiap pesawat tempur modern
![]() |
| Dua contoh yang mengaku "generasi kelima", tetapi source code-nya mempunyai segudang masalah, biaya operasionalnya tidak terjangkau, dan Upgrade-nya akan luar biasa sulit (Youtube Capture) |
Dahulu kala, ada yang pernah menulis kalau mulai berpikir tentang Source Code, seperti membayangkan sesuatu yang masih di awang-awang.
Untuk lebih jelasnya, saatnya kembali menilik sejarah perkembangan desain pesawat tempur.
Pesawat tempur jet generasi pertama, dimulai dari Gloster Meteor, dan Messerschmitt-252 pada masa akhir perang Dunia II (tahun 1944), yang sebenarnya masih mempergunakan bentuk sayap pesawat baling-baling yang lurus tegak. Generasi pertama ini kemudian mencapai puncaknya dalam masa perang Korea, dengan dua pesawat tempur definitif MiG-15, dan F-86 Sabre, yang mempunyai desain swept wing; memungkinannya berakseselasi lebih cepat, dari bentuk desain sayap konvensional, dan melebihi kecepatan suara, dengan mengambil manuever menukik.
![]() |
| Contoh pesawat tempur yang tidak perlu ambil pusing soal Source Code: karena dibuat sebelum komputer modern bisa diintegrasikan ke pesawat tempur (Gambar: Wikimedia) |
![]() |
| Generasi Kedua: Mirage IIIO Royal Australian Air Force Jenis combat-proven yang membantai ratusan MiG-21 selama konflik Arab-Israel: Australia mulai memperkenalkan Mirage IIIO di tahun 1964, dan kemudian license-production 114 unit. Pilot mereka jauh terlatih dalam rangka persiapan kemungkinan menghadapi Uni Soviet, atau PRC selama Perang Dingin Masih berpikir AURI (20 MiG-21) di tahun 1960-an kemampuannya "luar biasa"? Jangan terlalu banyak bermimpi! |
Generasi ketiga, yang diawali F-4 Phantom II di tahun 1948, kemudian juga diikuti Mirage F1, dan MiG-21MF, memperkenalkan untuk pertama kalinya, radar generasi pertama, Radar-Warning-Receiver, dan kemampuan mengoperasikan BVR missile, yang dikala itu semuanya tipe Semi-Active Radar Homing, seperti AIM-7 Sparrow, atau R-60. Realita perkembangan menuntut pesawat tempur yang semakin lama semakin rumit. Semakin banyak hal yang sebenarnya menuntut proses kalkulasi yang membutuhkan komputer. Tentu saja, di masa ini, evolusi perkembangan komputer juga masih terlalu prematur. Ukuran hardware-nya saja di kala itu terlalu besar untuk bisa masuk ke dalam airframe pesawat.
Generasi keempat, akhirnya di mulai di tahun 1970-an dengan F-14, F-15, F-16, dan akhirnya F-18. Generasi ini menutup pintu perkembangan, atau titik puncak desain; baik dari faktor desain aerodinamis, kemampuan manuever, jenis mesin afterburning turbofan (generasi sebelumnya masih memakai mesin turbojet yang lebih berisik, dan mengepulkan asap), dan terakhir, desain pulse-doppler radar modern.
Seiring dengan masa ini, evolusi komputer mulai melompat cepat sejak tahun 1980-an, sampai sekarang, dan mulai memperkenalkan berbagai macam fitur yang sebelumya tidak bisa dicapai dalam pesawat tempur.
Dengan demikian, tanpa sengaja semenjak tahun 1980-an, Source Code secara berangsur-angsur sudah mulai mengambil alih peran penentu utama kemampuan, atau efek gentar setiap jenis pesawat tempur. Inilah penentu nyata Generasi Kelima yang sesungguhnya, bukan bahasa marketing yang hanya mengharuskan Stealth, yang secara konsep saja sebenarnya kesalahan fatal.
Active Radar Guidance dalam BVR missile Abad ke-21 seperti AMRAAM, ataupun Meteor tidak akan dimungkinkan tanpa perkembangan penulisan Source Code dalam guidance missile ini sendiri. Dan kembali, ini menuntut komputer, dan Source Code pesawat tempur untuk dapat membaca feedback dari missile, dan memberikan update, dan panduan.
Source Code adalah penentu utama kemampuan pesawat tempur.
Ini bukan berarti kemampuan manuever dalam pertempuran jarak dekat tidak lagi penting, seperti yang dipercayai dalam konsep pesawat gembrot F-35 Lemon II. Perkembangan desain sensor, BVR ataupun WVR missile modern, Electronic Countermeasure (ECM), dan Electronic Counter-Counter Measure (ECCM) membuka terlalu banyak aspek baru dalam pertempuran udara, yang tidak pernah perlu diperhitungkan pilot di tahun 1960-an, atau tahun 1970-an, dengan MiG-21, dan Mirage III, ataupun dalam proyek mercusuar seperti KF-X. Semua ini adalah tugas source code dalam komputer pesawat tempur modern: Automatisasi dari semua apa yang tersedia, untuk mempersiapkan pilot untuk menghadapi semua ancaman yang tidak terduga.
Sebagai contoh, apakah masing-masing tipe akan dapat memberikan presentasi informasi yang sama ke pilot, atau Controller di pesawat AEW&C?
Inilah fundamental requirement untuk mencapai Superior Situational Awareness, dan ini tidak hanya semata tertangung kepada jenis radar, atau sensor yang dibawa, tetapi kemampuan Source Code dalam komputer pesawat untuk mengolah informasi tersebut, dan mem-presentasi-kannya ke setiap pilot, ataupun air controller.
Pilot, atau controller, tanpa sengaja juga sudah mulai beralih fungsi sebagai salah satu operator dalam sistem yang terpadu. BVR missile modern, seperti AMRAAM-D, ataupun Meteor, tidak lagi memerlukan panduan dari pesawat induknya, tetapi bisa dipandu dari radar pesawat tempur wingman, ataupun langsung dari Controller di pesawat AEW&C. Demikian juga missile jarak dekat, seperti AIM-9X Block-II, ataupun IRIS-T, bisa dipandu dari sumber lain, untuk menghancurkan BVR missile, ataupun cruise missile lawan. Kembali, semuanya ini tergantung apakah Source Code setiap alutsista memadai, atau tidak.
![]() |
| Sensor Fusion: 100% Situational Awareness Tanpa ada Sensor Fusion, pilot tidak akan bisa melihat sensor feedback dalam gambaran yang jelas. Tanpa ada Source Code yang baik, tidak ada Sensor Fusion |
Tantangan penulisan Source Code: Beberapa Contoh
![]() |
| Presentasi Informasi dalam Cockpit: Situational Awareness akan menentukan hidup-matinya pilot dalam pertempuran udara Abad ke-21 |
- Architecture, dan hardware-nya harus bisa di-upgrade mengikuti perkembangan jaman. Ini karena perkembangan kecepatan processor komputer melaju sangat cepat, dari hanya 60MHz di tahun 1993, sampai ke 4,2 GHz di tahun 2012. Ini jauh melebihi cepatnya perkembangan suatu proyek pesawat tempur.
- Mengoptimalkan kemampuan manuever, atau flight profile airframe.
- Mempunyai kemampuan untuk dapat mengoperasikan suatu persenjataan / perlengkapan yang sama lebih unggul dari tipe lain.
- Mudah untuk dapat mengintegrasikan persenjataan, atau perlengkapan baru, yang belum dibuat sewaktu pesawat tempur tersebut selesai development
- Terakhir, dan tidak kalah penting: Paket upgrade yang diperlukan harus sudah direncanakan secara rapi, dan terintegrasi.
Source Code menentukan kelaikan upgrade. Kelihatannya sekilas memang sangat sederhana, tetapi ini terbukti kalau secara praktek, terlihat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan pembuat pesawat tempur modern dewasa ini.
Eurofighter Typhoon Tranche-3B, baru memulai testing untuk Captor-E AESA radar pada 8-Juli-2016, menjadikannya pesawat tempur Barat yang paling terlambat dalam mengintegrasikan AESA radar. Sementara Gripen-C MS-20 sudah berhasil mengintegrasikan BVR missile buatan Eropa, MBDA Meteor, sejak Juli-2016, Typhoon masih akan belum selesai mengintegrasikan Meteor sampai tahun 2018. Testing-nya sendiri baru dimulai secara intensif sejak 2016.
Dassault Rafale masih belum mengintegrasikan Helmet Mounted Display sampai ke F3-R standard, walaupun sudah mendahului Typhoon dalam mengintegrasikan RBE-2AA AESA radar. Qatar memilih untuk mengintegrasikan Helmet Mounted Display ke Rafale yang mereka beli sejak 24-Januari-2017 ini, tetapi belum ada keputusan yang sama untuk Armee De'l Air. Perancis baru-baru ini menyatakan akan memulai development untuk F4 standard, dan saat ini belum mengungkapkan lebih banyak apa yang akan ditambahkan.
Kembali ke gambar awal, pesawat favorit blog Ausairpower, F-22, ternyata masih memakai architecture tahun 1980-an, yang masih mengandalkan banyak processor berkecepatan 25 MHz. AIM-9X Block-II, ataupun AMRAAM-D dengan dual-datalink, baru mulai diproduksi 20 tahun sejak architecture F-22 selesai dikunci. Tentu saja, karena segala sesuatu dalam Raptor terintegrasi, ini tidak semudah hanya mengganti processor, dan semuanya beres. Seluruh software-nya akan harus ditulis ulang, dan akan membutuhkan biaya milyaran $$ lagi. Yah, akibatnya, "pesawat tempur terhebat di dunia", secara praktis sudah ketinggalan jaman.
F-22 baru dinyatakan siap untuk mengintegrasikan AMRAAM-D dengan Increment 3.2B, tetapi tetap saja... dengan otaknya yang berpusat pada processor 25MHz, untuk memproses sensor feedback dari AN/APG-77 AESA radar (tidak ada Sensor Fusion), dan untuk mengendalikan 2-way datalink untuk AMRAAM-D; sangat meragukan kalau Source Code F-22 akan dapat mengoperasikan AMRAAM-D dengan level akurasi yang bisa didapat F-18F Super Hornet RAAF Australia, yang architecture-nya diproduksi 20 tahun lebih modern.
Sedangkan saudara kecilnya, F-35, yang dinyatakan "paling modern" di dunia, mempunyai 24 juta baris programming line di tahun 2012, dan sampai sekarang masih belum kunjung selesai untuk ditulis. Versi terakhir, Block-3i, menurut F35.com baru menyelesaikan 89% dari total programming code lines yang dibutuhkan agar F-35 dapat operasional.
Sama seperti F-22, F-35 Lemon II ternyata juga masih kesulitan untuk mengintegrasikan semua persenjataan yang sudah berhasil dibawa F-15, F-16, dan F-18. Tentu saja, kesulitan Source Code membuat F-35 juga masih belum bisa menembakkan senjata mesinnya sampai... paling cepat akhir tahun ini.
Sama seperti F-22, F-35 Lemon II ternyata juga masih kesulitan untuk mengintegrasikan semua persenjataan yang sudah berhasil dibawa F-15, F-16, dan F-18. Tentu saja, kesulitan Source Code membuat F-35 juga masih belum bisa menembakkan senjata mesinnya sampai... paling cepat akhir tahun ini.
Lebih parah lagi, kelemahan terbesar desain stealth adalah segala sesuatu sudah terintegrasi, dan karenanya justru sukar untuk di-upgrade. Sebagai contoh, EOTS untuk F-35 masih diproduksi berdasarkan pada Litening II pod buatan Northrop Grumman di tahun 1990-an, yang standard-nya sudah terlalu kuno dibandingkan Sniper ATP-SE pod buatan Lockheed jaman sekarang, yang hanya perlu plug-n-play ke F-15, F-16, dan F-18. Terlepas dari propaganda Lockheed akhir-akhir ini, masalah-masalah F-35 yang semacam ini... sebenarnya masih belum terselesaikan.
Kesemua masalah diatas, sebenarnya hanya selalu mengacu ke.... Source Code. Kitab suci setiap pesawat tempur.
Untuk Sukhoi Flemon buatan Russia.... tidak perlu dibahas terlalu mendetail.
Evolusi pengembangan pesawat tempur, yang berubah dari optimalisasi aerodinamis di Generasi Keempat, ke pengembangan source code di Generasi kelima, sayangnya jatuh bertepatan dengan masa ambruknya Uni Soviet, dan runtuhnya anggaran pertahanan mereka. Semuanya kembali mengacu ke grafik realita ini:
![]() |
| Kenyataan: Russia tidak pernah bisa pulih dari masa kegelapan di tahun 1990-an, dimana anggaran mereka kurang dari 50% rata-rata empat besar Eropa (Credits: The Washington Post) |
Hal-hal inilah yang membuat military-industrial complex Russia semakin sulit untuk bisa bersaing dengan industri Barat:
- Industri yang terbiasa dengan anggaran di atas $300 milyar (angka inflasi 2014), yah, tentu saja kesulitan dengan anggaran yang kurang dari $60 milyar, dan semakin menurun.
- Masalah korupsi berkelanjutan, dengan praktek "kickback" yang sudah lumrah, dan birokrasi yang berlapis-lapis masih terus mendera industri pertahanan Russia. Dalam interview dengan penuntut umum militier Russia, seperti dikutip Financial Times di tahun 2011, 20% anggaran pertahanan Russia sendiri sudah raib dalam berbagai macam kasus korupsi yang tak terselesaikan.
- Terlalu banyak fasilitas, ataupun mesin-mesin dari pabrik-pabrik militer ex-Soviet sudah harus didaur ulang, karena tidak lagi terpakai.
- Masalah terakhir: tidak lagi seperti dalam jaman komunis terpimpin masa lalu; setiap sarjana sudah dipersiapkan dari awal untuk menduduki posisi tertentu dalam setiap lapisan industri Soviet; military-industrial complex Russia modern juga kesulitan untuk merekrut talenta baru.
![]() |
| Hasilnya: Su-35S, yang hanya bisa dipersenjatai dengan missile andalan, R-27 Semi-Active Radar Homing, ex-Soviet (Gambar: Sputnik News) |
Ini bisa dibahas di lain waktu: Kenapa alih tehnologi dari Russia... (kalaupun bisa; Baca: MUSTAHIL) keuntungannya hampir tidak ada untuk pembangunan industri pertahanan nasional.
Untuk masa sekarang, AU Russia kelihatan cukup puas dengan radar PESA Irbis-E, dan missile R-27 semi-active homing. Dua standard yang sudah jauh ketinggalan jaman, bahkan menurut standard Barat dari 10 tahun yang lalu.
![]() |
| War-is-boring: Russia is upgrading its top fighter to fly from rough airfields Penulis: Dave Majumdar |
Bisa membayangkan betapa mengerikannya PAK-FA, yang development-nya sudah sangat bermasalah karena.... kurang modal, dan hanya bisa membawa Irbis-E radar, mesin AL-41F1 non-supercruise, dan R-27 semi-active missile sebagai persenjataan BVR utama?
![]() |
| Aduh, betapa menyedihkannya! 70+ tahun merdeka dan berdaulat, tetapi masih terus menderita penjajahan Versi Export Downgrade. Saatnya berhenti bermimpi! Walaupun kelihatan begitu indah, setiap F-16, ataupun Su-Kommercheskiy yang lebih kuno dan gampang rusak, HANYA BARANG SEWAAN |
Yah, lagi-lagi... semuanya mengacu ke Source Code. Seperti sudah dibahas dalam artikel Versi Export Downgrade, semua Source Code terjamin sudah dikunci dari pembuat / penjualnya.
Kembali ke proses bernafas tadi. Bayangkan kalau untuk setiap saat anda mengambil nafas, orang lain berhak menentukan seberapa banyak oksigen maksimum yang anda boleh hirup, kemudian seberapa banyak yang boleh didistribusikan sel-sel darah merah anda, dan seberapa banyak karbon dioksida yang ada boleh buang. Sedangkan untuk para penjajah penjual Sukhoi, kalau lengan anda tergores sedikit saja, diharuskan untuk dikirim "perbaikan mendalam" di rumah sakit mereka di Russia, dengan biaya sekurangnya $10 juta, termasuk komisi perantara.
Prosedur semacam ini adalah pelanggaran persyaratan UU no.16/2012, pasal 43, tapi kita bisa menebak alasannya, kenapa tidak dianggap masalah besar:
![]() |
| Sukhoi memang senang melanggar hukum! |
Loh, pesawatnya milik Indonesia, atau bukan?
Bukankah uang rakyat sudah dipakai untuk membeli pesawat-pesawat ini dengan harga milyaran $$?
Dimanakah kedaulatan negara?
Inilah realita pesawat tempur yang Source Code-nya sudah dikunci, alias model Export downgrade. Kedaulatan ada di tangan penjual, bukan pembeli. Kita hanya boleh memakai pesawat menurut instruksi yang sudah didikte dari penjual. Mencoba melanggar, atau modifikasi sendiri, bersiap saja menerima ancaman semua support akan di-cut off!
Selamat berkenalan dengan konsep Penjajahan Versi Export pasca Perang Dunia II.
Banyak pengamat, ataupun politikus di negara-negara pembeli F-35 Versi Export sudah mulai mempertanyakan masalah ini. Defense Chief dari United Kingdom, seperti dilaporkan Daily Mail UK, sudah mempertanyakan kenapa UK harus menghamburkan uang untuk turut membiayai development F-35 Lemon II, yang kemudian segala sesuatunya dirahasiakan?
Politisi dari partai oposisi "Five Star" di Italia saja, seperti dikutip Defense News, sudah cepat menunjuk:
![]() |
| Memang benar. Seharusnya Eropa tetap lebih setia ke Eurocanards. Defense News: Italy's Five Star Party will scrap the F-35 program |
Empat belas Milyar Euro hanya akan dihamburkan agar kedaulatan kita dipegang United States, menurut Basilio. Semua software untuk F-35, sama seperti Lockheed-Martin T-50 produksi Korea; adalah 100% milik Lockheed-Martin.
Sekali lagi, tidak peduli seberapapun dekatnya negara pembeli dengan si penjual, tidak akan ada bedanya. Versi Export Downgrade terjamin untuk si pembeli, dan penjual akan berhak menentukan apapun yang dimauinya; Kapan upgrade akan datang, atau diperbolehkan atau tidak.
Demikianlah nasib pembelian rongsokan versi export. Tentu saja tidak akan ada bedanya mau F-35, F-16, ataupun F-18. Ataupun dari Russia Su-34... eh, salah... versi Export Su-32, versi export Su-35, dan versi export Su-30SME.
![]() |
| Sudah saatnya kita BERHENTI menghamburkan uang, untuk menyumbang para penjajah Versi Export, Apalagi ke penjual yang hanya mau lewat Agen Perantara, dari negara yang peringkat korupsinya lebih rendah dibandingkan Indonesia. |
Rongsokan versi export kelas dua, yang spesifikasinya tidak layak pakai oleh pembuatnya.
Penutup: Pilihan kita mudah, mau MERDEKA, atau terus DIJAJAH?
Kembali, pertanyaannya selalu mudah, kalau membandingkan Gripen, dengan F-16V, Su-35 Kommercheskiy, ataupun IF-X, yang "katanya" buatan sendiri.
Apakah kita mau mulai merdeka, atau terus dijajah?
Tentu saja antara F-16V, dan Su-35K; Sukhoi akan selalu menjadi pilihan yang lebih manis rasanya.
Kalau kita mau merdeka, perjuangannya tetap saja akan sulit, walaupun akhirnya untuk pertama kalinya dalam 70 tahun lebih, kita akhirnya bisa memperoleh pesawat tempur yang mempunyai kemampuan penuh, tanpa bisa didikte supplier luar, dan paket upgrade-nya lebih terjamin.... atau... kalau bisa, kitapun bisa turut berpartisipasi dalam pengembangan MS-23 untuk Gripen-E, atau mungkin memulai license production Gripen-C untuk bersaing dengan FA-50, dan JF-17.
https://gripen-indonesia.blogspot.com/
























Komentar
Posting Komentar